Sejarah Serangan Umum 1 Maret Asal Usul, Tujuan dan Kerugian
Sejarah Serangan Umum 1 Maret Asal Usul, Tujuan dan Kerugian

Sejarah Serangan Umum 1 Maret : Asal Usul, Tujuan dan Kerugian

Diposting pada

Sejarah Serangan Umum 1 Maret : Asal Usul, Tujuan dan Kerugian – Setalah Belanda melakukan serangan agresi militer ke 2 tepatnya bulan Desember 1947.

Tentara Indonesia ingin melakukan perlawanan terhadap tentara Belanda dengan melakukan gerilya di sepanjang wilayah. Dengan banyaknya dukungan dan bantuan dari seluruh rakyat Indonesia termasuk pemerintah Indonesia waktu itu.

TNI akhirnya melakukan pemboikotan terhadap jaringan telepon, pemutusan jalur kereta api dan sabotase fasilitas yang didirikan Belanda dan masih banyak lagi.

Dengan serangan yang begitu gencar yang digalakkan oleh TNI membuat Belanda harus memutar otak untuk dapat terlepas dari serangan ini.

Sehingga tentara Belanda melakukan startegi untuk memperbanyak pos penjagaan dan melakukan penjagaan yang ketat terhadap wilayah yang dikuasai oleh Belanda.

Perseteruan antara Indonesia dan Belanda sampai terdengar oleh PBB. Sehingga dewan keamanan PBB memerintahkan untuk membuat suatu tim untuk menjadi penengah Indonesia dan Belanda.

Tim ini dinamakan UNCI ( (United Nations Commission for Indonesia). Di sisi lain Belanda masih berusaha keras untuk dapat mempertahankan kekuasaannya.

Belanda mengatakan bahwa Indonesia tidak ada lagi di negara ini. Mereka membuat pendapat bahwa Indonesia sudah menjadi negara yang mati. Setelah mendengar beberapa pendapat yang menyatakan bahwa Indonesia tidak ada lagi.

Jenderal Sudirman yang waktu itu sebagai pemimpin perang geram terhadap perlakuan Belanda terhadap Indonesia. Sudirman pun memerintahkan kepada panglima divisi  untuk memikirkan penyerangan terhadap Belanda dalam waktu dekat.

Oleh karena itu, diputuskan semua panglima tertinggi TNI untuk melakukan serangan secara besar-besaran di berbagai kota untuk mengahadapi Belanda.

Dan diputuskan bahwa penyerangan kota-kota difokuskan ke wilayah Yogyakarta dana sekitarnya. TNI melakukan siasat perang menyiarkan perang dengan pemancar radio AURI.

Keputusan yang dilakukan oleh tentara Indonesia memang memerlukan pertimbangan yang cukup matang sebelum melakukan penyerangan. Hal yang menjadi pertimbangan untuk menyerang Yogyakarta didasarkan 3 hal :

  • Kota Yogyakarta merupakan ibukota Indonesia pada waktu itu. Dan jika TNI menguasai wilayah ibukota maka sangat bisa berpengaruh terhadap kekuasaan Indonesia terhadap Belanda
  • Yogyakarta berada di divisi III sehingga tidak perlu persetujuan panglima perang untuk dapat menguasai daerah kekuasaan.
  • Masih adanya perwakilan delegasi UNCI yang menginap di Hotel Merdeka dan wartawan asing yang sedang meliput peperangan di Yogyakarta.

Tujuan Dilakukannya Serangan Umum 1 Maret

Dalam peperangan melawan Belanda pasukan tentara Indonesia mempunyai misi tersendiri untuk dapat memboikot penyerangan terhadap Belanda. Berikut ini ada beberapa tujuan dilakukannya penyerangan 1 Maret 1949 :

  1. Menunjukkan ke dunia internasional bahwa Indonesia mempunyai keberadaan Pemerintah yang solid dan tentara bersenjata yang masih sangat kuat.
  2. Meningkatkan moral bangsa Indonesia yang selama ini dilakukan semena-mena terhadap Belanda. Sehingga membuat Indonesia menjadi negara yang paling terjajah di mata dunia internasional.
  3. Ingin terlepas dari belenggu kekuasaan Belanda yang selama ini telah menguasai Indonesia selama hampir 365 tahun lamanya.
  4. Meruntuhkan mental bangsa Belanda dalam hal ini dengan dilakukannya penyerangan dengan harapan Belanda dapat menarik kekuasaan dari Indonesia.
  5. Mempertahankan kedaulatan republik Indonesia yang menjadi salah satu tujuan utama peperangan melawan Belanda ini.

Kerugian Peristiwa 1 Maret 1949

Peristiwa 1 Maret 1947 menimbulkan berbagai kerugian terhadap kedua belah pihak antara Indonesia dan Belanda. Di Indonesia sendiri saat pertikaian yang ada di Yogyakarta menimbulkan korban jiwa.

Sebanyak 202 orang di desa Kemusuk dibantai oleh tentara Belanda termasuk orang tua Pak Harto R. Atmoprawiro dibunuh oleh orang Belanda.

Jasad yang sudah meninggal terbujur kaku di makan Soemanggelan Kemusuk. Orang-orang yang gugur ini dijuluki sebagai perisai perang kemerdekaan.

Selain itu, di daerah Rawagede tentara Belanda membunuh warga sipil sebanyak 431 orang pada tanggal 4 Desember 1949.

Pembantaian kepada warga sipil ini karena tentara Belanda mencari tahu keberadaan dari Bambang Sugeng yang menjadi orang disiksa hampir tewas namun kabur.

Sedangkan pihak Belanda hanya 6 orang tewas dan  14 orang luka dan prajurit Indonesia yang gugur mencapai 300 prajurit.

Baca Juga :

Terjadinya Perang 1 Maret 1949

Pada waktu itu Sri Sultan Hamengku Buwono IX mengadakan pertemuan dengan letkol Soeharto di ndalem Prabunigrat. Pertemuan itu menghasilkan keputusan untuk mengadakan serangan 1 Maret 1949.

Beberapa jam sebelum serangan 1 Maret sudah banyak gerilyawan memasuki kota Yogyakarta dan sirene jam 6 sudah dibunyikan. Sehingga TNI menandai ini sebagai awal serangan awal terhadap Belanda.

Ada 2.500 gerilyawan dibawah pimpinan Sohearto yang mengepung kota Yogyakarta secara besar-besaran. Pertempuran 1 Maret terjadi di sepanjang ruas jalan Yogyakarta. Serangan umum ini berhasil mengalahkan Belanda untuk merebut Yogyakarta.

Dalam waktu singkat serangan umum 1 Maret berhasil memukul mundur pasukan Belanda dari Yogyakarta. Para gerilyawan berhasil merebut senjata dari pasukan Belanda dan berhasil merampas kendaraan perang Belanda.

Pasukan Indonesia berhasil menduduki Yogyakarta dalam kurun waktu 6 jam dan beritanya di sebarkan dari radio PC1 Gunungkidul dan diteruskan ke Bukittinggi lalu disebarkan ke pemancar di  militer Myanmar dan New Delhi. Dan dikirim ke  PBB yang sedang bersidang di Washington DC.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *