Sejarah Perjanjian Renville : Latarbelakang, Isi dan Tokoh Perjanjian Renville
Sejarah Perjanjian Renville : Latarbelakang, Isi dan Tokoh Perjanjian Renville

Sejarah Perjanjian Renville : Latarbelakang, Isi dan Tokoh

Diposting pada

Sejarah Perjanjian Renville : Latarbelakang, Isi dan Tokoh Perjanjian Renville – Indonesia menyimpan berbagai sejarah yang tidak terlupakan sejak masa penjajahan terdahulu. Banyak peristiwa-peristiwa yang menjadikan Indonesia dapat merebut kemerdekaan.

Sehingga kita dapat merasakan kebebasan mutlak selama 74 tahun lamanya. Tanah air pernah dijajah oleh tiga bangsa sekaligus.

Diantaranya Jepang, Belanda dan Portugal yang pernah menduduki Indonesia. Namun, negara Belanda menjadi yang paling terlama menjajah bangsa Indonesia jika dihitung sekitar 365 tahun lamanya.

Didalam penjajahan Belanda, Indonesia sebagai bangsa yang dijajah tidak mau tinggal diam ketika negaranya diinjak-injak oleh bangsa lain.

Perlawanan demi perlawanan terus digalakkan untuk dapat meraih kemerdekaan Indonesia. Salah satunya lewat perjanjian yang dapat membuat Belanda maupun Indonesia dapat saling berunding terhadap kesepakatan-kesepakatan yang di buat.

Salah satu perjanjian yang paling menyorot perhatian adalah perjanjian Renville. Perjanjian ini merupakan perjanjian yang dibuat antara pihak Indonesia dan Belanda yang diadakan di geladak USS Renville, milik kapal Amerika serikat yang menjadi angkutan laut yang digunakan Belanda masa itu.

Kapal Renville tersebut bersandar di pelabuhan Tanjung Priok yang dulunya merupakan keluar masuknya perdagangan dari luar negeri.

Perjanjian Renville dilaksanakan pada tanggal 17 Agustus 1945. Perundingan ini menghasilkan beberapa keputusan yang ditengahi oleh beberapa negara seperti Belgia, Australia dan Amerika Serikat.

Latar Belakang Perjanjian Renville

Perundang ini disebabkan oleh situasi yang kurang baik antara pihak Belanda dan Indonesia setelah sebelumnya Belanda meminta perjanjian Linggarjati kepada Indonesia.

Sehingga membuat Belanda melakukan sebuah agresi militer terhadap Indonesia. Dalam agresi militer yang dilakukan oleh negeri kincir angin ini banyak sekali mendapat tentangan dari berbagai negara di dunia seperti Amerika, Inggris.

Karena agresi militer tidak sejalan dengan perdamaian yang diusung terhadap sebuah negara. Alhasil, negara lain yang ikut mendukung Indonesia yaitu Australia dan India membawa masalah agresi militer ini kepada dewan keamanan PBB.

Pada tahun 1947 tepatnya tanggal 1 Agustus dewan keamanan PBB meminta Belanda untuk melakukan gencatan senjata terhadap Indonesia.

Sehingga pada tanggal 4 Agustus 1947 Belanda akhirnya secara resmi mengakui agresi militer yang dilakukan oleh Belanda selama tiga hari tersebut.

Untuk membuat Indonesia agar aman dari agresi militer Belanda. PBB melakukan pembentukan suatu tim yang bertugas sebagai peletak masalah antara kedua belah pihak antara Belanda dan Indonesia.

Tim itu diberi nama KTN atau komisi tiga negara yang terdiri dari negara Amerika, Belgia dan Australia. Ketiga negara ini diwakili oleh masing-masing perwakilan seperti Amerika diwakili oleh Frank Graham, Belgia diwakili Paul Van Zealand dan Australia diwakili oleh Richard Kirby.

Dengan dibentuknya komisi tiga negara tentunya akan memudahkan PBB untuk dapat mengontrol perjanjian yang telah dibuat oleh Belanda maupun Indonesia.

Dan perjanjian ini lebih dikenal dengan perjanjian Renville yang dilakukan diatas kapal Renville buatan Amerika Serikat yang merupakan sekutu dari Belanda.

Isi Perjanjian Renville

Perjanjian Renville yang dilakukan oleh Belanda dan Indonesia yang diperantarai oleh Amerika, Belgia dan Australia menghasilkan beberapa keputusan. Poin-poin yang ada di dalam perjanjian Renville ini memuat beberapa isi diantaranya :

  • Beberapa wilayah yang menjadi bagian Belanda diantaranya Yogyakarta, Jawa Tengah dan Sumatera. Pihak Indonesia tidak boleh mengganggu gugat ketiga wilayah tersebut, Karena sudah menjadi bagian Belanda.
  • Seluruh Tentara Republik Indonesia harus ditarik mundur dari wilayah Jawa timur dan Jawa Barat dan diberbagai kekuasaan Belanda di daerah tersebut.
  • Disetujuinya daerah Demarkasi yang merupakan daerah pemisah antara daerah kekuasaan dari Indonesia dan Belanda yang telah disepakati dalam perjanjian Renville.

Perjanjian yang telah disepakati oleh kedua pihak antara Belanda dan Indonesia membuat Indonesia mengalami kerugian.

Sebab, Indonesia hanya memikirkan wilayah yang begitu sempit yang sebagian lainnya menjadi wilayah territorial Belanda. Terlebih lagi banyak sekali blokade terhadap Belanda dalam urusan ekonomi di wilayah yang dimiliki oleh Indonesia.

Hasil perjanjian Renville membuat TNI harus meninggalkan wilayah Jawa timur dan Jawa barat yang sebelumnya dibangun dengan kerja keras oleh para pejuang.

Tokoh Perjanjian Renville

Tokoh yang ada di dalam perjanjian Renville yang diikuti oleh beberapa negara yang dilakukan di kapal Renville diantaranya :

  1. Delegasi Indonesia diwakili oleh : Amir Syarifuddin (ketua), Haji Agus Salim (anggota), Ali Sastroamidjojo (anggota), Dr.Coa Tik Len (anggota), Dr. J.Leimena (anggota) dan Nasrun (anggota).
  2. Delegasi dari Belanda diwakili : R. Abdulkadir Wijoyoatmojo (ketua), Mr.H.A.L van Vredenburgh (anggota), Dr. Chr. Soumoki (anggota) dan Dr. P.J. koets(anggota)
  3. Utusan dari PBB : Frank Graham (ketua/ Amerika Serikat),  Paul van Zeeland (anggota/ Belgia ) dan Richard Kirby (anggota/ Australia ). Ketiga perwakilan ini dibentuk atas inisiatif dari PBB yang bertujuan untuk dapat melerai pertikaian dari Belanda dan Indonesia.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *