Sejarah dan Asal Usul Peristiwa Bubat Pada Zaman Majapahit
Sejarah dan Asal Usul Peristiwa Bubat Pada Zaman Majapahit

Sejarah dan Asal Usul Peristiwa Bubat Pada Zaman Majapahit

Diposting pada

Sejarah dan Asal Usul Peristiwa Bubat Pada Zaman Majapahit – Sebelum Indonesia merdeka dulunya di negara kita menganut  kerajaan yang menaungi di beberapa wilayah.

Banyak dari kerajaan-kerajaan terkenal di Indonesia mempunyai sejarah panjang dan melahirkan beberapa peristiwa yang bersejarah hingga masa kini.

Dari peristiwa yang terjadi pada zaman tersebut terungkap beberapa peninggalan sejarah dan sampai saat ini masih ada untuk dilestarikan. Seperti peristiwa Bubat pada zaman Majapahit.

Dimana perang ini adalah perang singkat yang terjadi pada tahun 1357 M. Tepatnya pada zaman raja hayam Wuruk dan kerajaan Majapahit.

Perang ini terjadi pada perselisihan antara Mahapatih Gajahmada dengan Majapahit yang diwakilkan oleh Prabu Maharaja Lingga buana dari daerah sunda. Kerajaan Sunda sendiri dibentuk pada tahun 932 M dan runtuhnya pada tahun 1539 M. Kerajaan ini merupakan gabungan dari kerajaan Sunda dan kerajaan Galuh yang terletak di Ciamis Jawa barat.

Sejarah Peristiwa Bubat Zaman Majapahit

Wilayah antara kerajaan Sunda dan Kerajaan Galuh dapat dilihat dari tersebarnya peninggalan sejarah yang bisa dikenali dari mulai bagian Jawa barat, Banten, dan beberapa bagian dari Jawa tengah.

Saat itu ibukota kerajaan Majapahit terletak di Bogor Jawa barat dan merupakan basis kerajaan Sunda pada waktu itu.

Kerajaan Majapahit didirikan pada tahun 1293 M, runtuh 1478 M atau 1522 M) yang mempelopori berdirinya kerajaan ini adalah Raden Wijaya yang merupakan menantu dari Kerajaan Singosari.

Usut punya usut raja Hayam Wuruk ternyata ingin menikahi putri Raja Linggabuana yang bernama Dyah Pitaloka Citraresmi.

Untuk itulah pernikahannya tersebut disetujui oleh Raja Linggabuana karena etikad baiknya untuk menikahi putrinya.

Dan untuk niatanya Raja Linggabuana melakukan perjalanan dari kerajaan Padjajaran hingga kerajaan Majapahit. Tapi ditengah jalan mereka di hadang oleh Gajah Mada yang menginginkan Raja Linggabuana menyerahkan diri ke Raja Majapahit. Dan membuat pertempuran pun tidak terelakkan.

Asal-usul  Peristiwa Bubat Zaman Majapahit

Pada waktu itu Gajah Mada membuat sumpah Palapa yang terkenal sebelum Raja Hayam Wuruk berkuasa pada kerajaan Majapahit.

Sumpah itu yang melatarbelakangi keputusan Gajah Mada dengan menginginkan perlakuan Hayam Wuruk untuk melakukan rombongan yang berasal dari Sunda sebagai bentuk penyerahan diri terhadap kerajaan Majapahit.

Caranya dengan menghadang rombongan kerajaan Sunda yang akan berkunjung untuk menikahkan Dyah Pitaloka Citraresmi dengan Hayam Wuruk.

Sehingga Hayam Wuruk didesak untuk menerima Dyah Pitaloka Citraresmi sebagai tanda penyerahan kerajaan Sunda terhadap kerajaan Majapahit.

Raja Linggabuana yang beranggapan bahwa masih ada rasa persaudaraan antara Raja Majapahit menyanggupi untuk dapat berkunjung ke kediaman Hayam Wuruk.

Rombongan dari Sunda yang mengira akan membawa prajurit sedikit. Akhirnya diterima di Pesanggrahan Bubat yang merupakan daerah kekuasaan Majapahit.

Di tempat lain Hayam Wuruk belum menyadari taktik yang direncanakan Gajah Mada untuk melawan kerajaan Sunda. Karena tidak ada respon dari Hayam Wuruk, Gajah Mada akhirnya mengerahkan seluruh pasukannya untuk menyerang kerajaan Sunda. Lalu Gajah Mada pun mengancam Raja Linggabuana untuk dapat mengakui kekuasaan Majapahit.

Linggabuana menolak dan akhirnya terjadi peperangan antara Gajah Mada dan Kerajaan Sunda. Waktu itu Raja Linggabuana hanya membawa sedikit pasukan perang ketika akan berkunjung ke Majapahit.

Linggabuana hanya membawa Menteri, Pejabat dan para pengawalnya. Dengan kalahnya prajurit yang ada membuat Linggabuana mati dalam pertempuran dengan Gajahmada.

Lalu putri Diah Pitaloka Citraresmi melakukan pembelaan dengan bunuh diri. Sesuai peraturan yang ada pada kerajaan Sunda yang mengharuskan siapapun para perempuan jika laki-lakinya gugur maka untuk melindungi kesucian dirinya dari hal-hal jahat memutuskan untuk bunuh diri sebagai tanda hormat kepada kerajaan.

Setelah berakhirnya perang bubad menimbulkan kesedihan yang mendalam dari para warga yang berada di Kerajaan Sunda. Sehingga menimbulkan mitos yang mengatakan bahwa orang Sunda tidak boleh menikahi orang Jawa.

Dikarenakan peperangan bubad yang menimbulkan korban jiwa yang banyak dan membuat Raja Linggabuana mati di peristiwa tersebut.

Konon dengan menikahi orang Sunda dengan Jawa itu tidak harmonis dan menimbulkan perpecahan di dalam rumah tangga. Sampai saat ini masyarakat Sunda tidak menyukai nama Hayam Wuruk dan Majapahit.

 Dan membuat di seluruh jalan yang ada di Jawa Barat tidak ada yang namanya Hayam Wuruk maupun Majapahit. Yang ada adalah jalan Padjajaran dan jalan Siliwangi yang terletak di Bandung maupun kota lain di Jawa Barat.

Kegagalan Majapahit yang tidak mewujudkan sumpah Palapa dan menimbulkan kebencian masyarakat Sunda waktu itu terhadap kerajaan Majapahit.

Untuk menghormati gugur nya  Raja Linggabuana masyarakat Sunda menjulukinya dengan Prabu Wangi dan untuk putra Linggabuana yang tidak ikut dalam perang babad dijuluki dengan Prabu Siliwangi.

Hubungan Hayam Wuruk dan Gajah Mada menjadi renggang karena Dyah Pitaloka Citraresmi harus mati terbunuh dalam peristiwa Bubat tersebut.

Pejabat yang ada di kerajaan Majapahit menghina Gajah Mada karena kecerobohannya melakukan perlawanan terhadap Kerajaan Sunda.

Sehingga Gajah Mada harus turun derajatnya di Kerajaan Majapahit. Dan mengharuskan dia pindah ke Madakipura atau Probolinggo untuk anjuran secara halus yang disematkan oleh Hayam Wuruk terhadap Gajahmada.

Sebelum Indonesia merdeka dulunya di negara kita menganut  kerajaan yang menaungi di beberapa wilayah.

Banyak dari kerajaan-kerajaan terkenal di Indonesia mempunyai sejarah panjang dan melahirkan beberapa peristiwa yang bersejarah hingga masa kini.

Dari peristiwa yang terjadi pada zaman tersebut terungkap beberapa peninggalan sejarah dan sampai saat ini masih ada untuk dilestarikan.

Seperti peristiwa Bubat pada zaman Majapahit. Dimana perang ini adalah perang singkat yang terjadi pada tahun 1357 M. Tepatnya pada zaman raja hayam Wuruk dan kerajaan Majapahit.

Perang ini terjadi pada perselisihan antara Mahapatih Gajahmada dengan Majapahit yang diwakilkan oleh Prabu Maharaja Lingga buana dari daerah sunda.

Kerajaan Sunda sendiri dibentuk pada tahun 932 M dan runtuhnya pada tahun 1539 M. Kerajaan ini merupakan gabungan dari kerajaan Sunda dan kerajaan Galuh yang terletak di Ciamis Jawa barat.

Sejarah Peristiwa Bubat Zaman Majapahit

Wilayah antara kerajaan Sunda dan Kerajaan Galuh dapat dilihat dari tersebarnya peninggalan sejarah yang bisa dikenali dari mulai bagian Jawa barat, Banten, dan beberapa bagian dari Jawa tengah.

Saat itu ibukota kerajaan Majapahit terletak di Bogor Jawa barat dan merupakan basis kerajaan Sunda pada waktu itu.

Kerajaan Majapahit didirikan pada tahun 1293 M, runtuh 1478 M atau 1522 M) yang mempelopori berdirinya kerajaan ini adalah Raden Wijaya yang merupakan menantu dari Kerajaan Singosari.

Usut punya usut raja Hayam Wuruk ternyata ingin menikahi putri Raja Linggabuana yang bernama Dyah Pitaloka Citraresmi.

Untuk itulah pernikahannya tersebut disetujui oleh Raja Linggabuana karena etikad baiknya untuk menikahi putrinya. Dan untuk niatanya Raja Linggabuana melakukan perjalanan dari kerajaan Padjajaran hingga kerajaan Majapahit.

Tapi ditengah jalan mereka di hadang oleh Gajah Mada yang menginginkan Raja Linggabuana menyerahkan diri ke Raja Majapahit. Dan membuat pertempuran pun tidak terelakkan.

Baca Juga :

Asal-usul  Peristiwa Bubat Zaman Majapahit

Pada waktu itu Gajah Mada membuat sumpah Palapa yang terkenal sebelum Raja Hayam Wuruk berkuasa pada kerajaan Majapahit.

Sumpah itu yang melatarbelakangi keputusan Gajah Mada dengan menginginkan perlakuan Hayam Wuruk untuk melakukan rombongan yang berasal dari Sunda sebagai bentuk penyerahan diri terhadap kerajaan Majapahit.

Caranya dengan menghadang rombongan kerajaan Sunda yang akan berkunjung untuk menikahkan Dyah Pitaloka Citraresmi dengan Hayam Wuruk.

Sehingga Hayam Wuruk didesak untuk menerima Dyah Pitaloka Citraresmi sebagai tanda penyerahan kerajaan Sunda terhadap kerajaan Majapahit.

Raja Linggabuana yang beranggapan bahwa masih ada rasa persaudaraan antara Raja Majapahit menyanggupi untuk dapat berkunjung ke kediaman Hayam Wuruk. Rombongan dari Sunda yang mengira akan membawa prajurit sedikit.

Akhirnya diterima di Pesanggrahan Bubat yang merupakan daerah kekuasaan Majapahit. Di tempat lain Hayam Wuruk belum menyadari taktik yang direncanakan Gajah Mada untuk melawan kerajaan Sunda.

Karena tidak ada respon dari Hayam Wuruk, Gajah Mada akhirnya mengerahkan seluruh pasukannya untuk menyerang kerajaan Sunda. Lalu Gajah Mada pun mengancam Raja Linggabuana untuk dapat mengakui kekuasaan Majapahit.

Linggabuana menolak dan akhirnya terjadi peperangan antara Gajah Mada dan Kerajaan Sunda. Waktu itu Raja Linggabuana hanya membawa sedikit pasukan perang ketika akan berkunjung ke Majapahit. Linggabuana hanya membawa Menteri, Pejabat dan para pengawalnya.

Dengan kalahnya prajurit yang ada membuat Linggabuana mati dalam pertempuran dengan Gajahmada. Lalu putri Diah Pitaloka Citraresmi melakukan pembelaan dengan bunuh diri.

Sesuai peraturan yang ada pada kerajaan Sunda yang mengharuskan siapapun para perempuan jika laki-lakinya gugur maka untuk melindungi kesucian dirinya dari hal-hal jahat memutuskan untuk bunuh diri sebagai tanda hormat kepada kerajaan.

Setelah berakhirnya perang bubad menimbulkan kesedihan yang mendalam dari para warga yang berada di Kerajaan Sunda.

Sehingga menimbulkan mitos yang mengatakan bahwa orang Sunda tidak boleh menikahi orang Jawa. Dikarenakan peperangan bubad yang menimbulkan korban jiwa yang banyak dan membuat Raja Linggabuana mati di peristiwa tersebut.

Konon dengan menikahi orang Sunda dengan Jawa itu tidak harmonis dan menimbulkan perpecahan di dalam rumah tangga. Sampai saat ini masyarakat Sunda tidak menyukai nama Hayam Wuruk dan Majapahit.

 Dan membuat di seluruh jalan yang ada di Jawa Barat tidak ada yang namanya Hayam Wuruk maupun Majapahit. Yang ada adalah jalan Padjajaran dan jalan Siliwangi yang terletak di Bandung maupun kota lain di Jawa Barat.

Kegagalan Majapahit yang tidak mewujudkan sumpah Palapa dan menimbulkan kebencian masyarakat Sunda waktu itu terhadap kerajaan Majapahit.

Untuk menghormati gugur nya  Raja Linggabuana masyarakat Sunda menjulukinya dengan Prabu Wangi dan untuk putra Linggabuana yang tidak ikut dalam perang babad dijuluki dengan Prabu Siliwangi.

Hubungan Hayam Wuruk dan Gajah Mada menjadi renggang karena Dyah Pitaloka Citraresmi harus mati terbunuh dalam peristiwa Bubat tersebut.

Pejabat yang ada di kerajaan Majapahit menghina Gajah Mada karena kecerobohannya melakukan perlawanan terhadap Kerajaan Sunda. Sehingga Gajah Mada harus turun derajatnya di Kerajaan Majapahit.

Dan mengharuskan dia pindah ke Madakipura atau Probolinggo untuk anjuran secara halus yang disematkan oleh Hayam Wuruk terhadap Gajahmada.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *