Sejarah Insiden Hotel Yamato : Latar Belakang dan Tokoh Dalam Insiden Hotel Yamato di Surabaya
Sejarah Insiden Hotel Yamato : Latar Belakang dan Tokoh Dalam Insiden Hotel Yamato di Surabaya

Sejarah, Latar Belakang dan Tokoh Dalam Insiden Hotel Yamato di Surabaya

Diposting pada

Sejarah Insiden Hotel Yamato : Latar Belakang dan Tokoh Dalam Insiden Hotel Yamato di Surabaya – Dalam menilik masa lalu Indonesia sebelum merdeka masih menyimpan berbagai sejarah yang layak kita ketahui sebagai generasi muda.

Kemerdekaan Indonesia tidak diraih dengan mudah dari para penjajah yang sudah menduduki Indonesia untuk melakukan ekspansi dan menguasai seluruh sumber daya yang dimilikinya oleh Indonesia.

Banyak sekali negara yang mengincar kekayaan alam Indonesia pada waktu itu. Karena negara Indonesia mempunyai tempat strategis dan memiliki alam yang cukup potensial.

Salah satu negara yang pernah menjajah Indonesia adalah negara Belanda. Belanda menjadi negara yang paling lama menjajah Indonesia.

Negara yang terkenal dengan kincir anginnya ini menjajah Indonesia selama hampir 365 tahun lamanya. Di Indonesia, Belanda awalnya mengincar rempah-rempah yang ada di Indonesia untuk dijadikan obat dan bumbu tradisional yang tidak ada di negara lainnya.

Namun, Belanda memiliki tujuan yang lain ketika berada di Indonesia yaitu ingin merebut negara Indonesia untuk dijadikan basis kekuasaan mereka.

Kekuasaan Belanda yang paling besar ada di kota Surabaya. Disini Belanda menguasai hampir seluruh wilayah yang ada di Surabaya dari fasilitasnya hingga sumber daya alamnya.

Sehingga membuat orang-orang Surabaya geram dengan apa yang dilakukan oleh penjajah Belanda. Apalagi di Surabaya hampir seluruh warganya disuruh untuk bekerja paksa bersama Belanda.

Akhirnya masyarakat Surabaya yang tidak tahan lagi terhadap perilaku Belanda yang semena-mena membuat gerakan melawan dengan mengerahkan seluruh masyarakat Surabaya untuk mengakhiri penindasan ini.

Dan membuat warga Surabaya menyerang Hotel Yamato yang menjadi pusat kekuasaan Belanda masa itu.

Latar Belakang Hotel Yamato

Hotel Yamato merupakan hotel yang berdiri di jalan Tunjungan no. 65 Surabaya. Di hotel ini lebih dikenal pada waktu itu dengan sebutan hotel Oranje.

Nama Yamato sendiri diberikan ketika tentara Jepang berhasil mengusir tentara Belanda dari Surabaya. Yamato mengacu kepada kepemimpinan pasukan Belanda yang tinggal dari 1942-1945 bersama 200 orang dan beberapa polisi Jepang yang lebih dikenal dengan Kampetai.

Awal mulanya terjadinya serangan ke hotel Yamato karena Jepang maupun Belanda mempunyai organisasi bersama bernama Komite Kontak Sosial yang dibantu penuh oleh Jepang.

Dalam menjalankan tugasnya baik Jepang dan Belanda berlindung dibalik intercoss. Dimana kedua negara saling berebut gudang-gudang yang menduduki beberapa tempat salah satunya Hotel Yamato.

Tanggal 19 September 1945 peristiwa Yamato dimulai saat bendera Belanda dipasang di atas hotel Yamato pada pukul 21.00. Belanda yang dipimpin oleh jenderal Mr. W.V. Ch.

Ploegman mengibarkan bendera Belanda tanpa adanya persetujuan dari pihak Indonesia. Bendera yang tadinya berwarna merah putih ditambahkan warna biru.

Para pemuda Surabaya keesokan harinya yang melihat langsung bendera merah putih diganti oleh bendera Belanda langsung marah dan menghina para penjajah. Menurut pemuda Surabaya pihak Belanda dianggap melecehkan Indonesia sebagai negara berdaulat.

Kabar yang beredar pun begitu cepat hingga hampir keseluruhan Indonesia. Dengan waktu singkat para demonstran yang memenuhi halaman hotel tampak marah dan mengepung seluruh hotel Yamato.

Di belakang hotel Yamato dijaga pasukan tentara Jepang yang menjaga hotel dari serangan pemuda. Beberapa orang masuk seperti residen Sudirman yang menjabat sebagai wakil residen daerah Surabaya dan perwakilan residen pemerintah Indonesia masuk dikawal oleh dua ajudannya Sidik dan Hariyanto.

Sudirman yang menjabat sebagai residen meminta diturunkannya bendera oleh Belanda. Waktu itu yang menjadi perwakilan Belanda adalah jenderal Mr. Ploegman. Dia menolak kedaulatan Indonesia dan menolak penurunan bendera Belanda.

Akhirnya terjadi perkelahian antara Ploegman dan Sudirman. Dimana Mr. Ploegman mati terbunuh karena dicekik oleh sidik. Sedangkan Sudirman dibawa keluar oleh Hariyono untuk mengundang para pemuda masuk ke hotel.

Saat itulah pemuda langsung menyerbu hotel dan langsung naik ke lantai atas untuk menyobek bendera Belanda yang berwarna biru, putih dan merah.

Hariyono yang membawa keluar Sudirman akhirnya kembali lagi ke hotel untuk memanjat tiang bendera. Pada saat itu Hariyono berhasil menyobek bendera bersama kusno Wibowo.

Lalu mengerek kembali bendera yang berwarna merah dan putih ke atas tiang bendera tersebut. Para pemuda tadi pun berteriak merdeka untuk merayakan kemenangan merebut kembali bendera merah putih.

Tokoh Dibalik Insiden Hotel Yamato

Setelah terjadinya penyerangan hotel Yamato terjadi beberapa penyerangan antara tentara AFNEI. Pertempuran itu membuat banyak korban jiwa yang tewas dan jenderal D.C. Hawthorn meminta Soekarno meredakan situasi dalam pertempuran tersebut. Didalam pertempuran tersebut ada beberapa tokoh yang sangat menonjol dalam penyerangan hotel Yamato. Tokoh itu diantaranya :

  • Hariyono dan Koesno Wibowo

Pemuda asal Surabaya yang menjadi sorotan adalah Hariyono dan Kusno Wibowo menjadi orang yang paling berjasa dalam penurunan bendera Belanda.

Mereka berdua berhasil merobek bendera berwarna biru dan dapat mengerek kembali bendera warna merah putih diatas hotel Yamato.

  • Jenderal Mallaby

Setelah terjadi penyobekan bendera Belanda oleh pemuda Surabaya. Setelah itu banyak sekali pertempuran kecil yang dilakukan oleh Belanda.

Waktu itu Belanda di tunggangi oleh Inggris untuk melakukan penyerangan terhadap Indonesia. Tokoh yang paling terlibat disini adalah Jenderal Mallaby. Singkat cerita Jenderal Mallaby meninggal dunia karena dibunuh pada penyerang kecil ini.

  • Bung Tomo

Saat Inggris menyerukan untuk membuat masyarakat Surabaya untuk tunduk kepada Belanda. Bung Tomo marah besar sebagai pemuda Surabaya waktu itu.

Lewat orasinya yang ada di radio untuk mengatakan bahwa Surabaya tidak mau takluk dari penjajahan. Dirinya berpidato untuk membakar semangat para pemuda untuk bisa terus berjuang demi Indonesia.

Baca Juga : Sejarah Perjanjian Renville

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *