Sejarah dan Asal Usul Kerajaan Demak

Diposting pada

Sejarah dan Asal Usul Kerajaan DemakSJika membahas mengenai sejarah Kerajaan Demak, tentu kita tidak bisa mengesampingkan mengenai dua hal.

Yakni tentang Walisongo dan Kerajaan Majapahit karena memang salah satu cikal bakal berdirinya Kerajaan Demak adalah karena bersamaan dengan runtuhnya Kerajaan Majahapit yang pada waktu itu sangat berkuasa dan memiliki kekuasan yang sangat luas, bahkan sampai ke luar Nusantara.

Bagi anda yang ingin mengetahui lebih lanjut mengenai sejarah Kerajaan Demak, maka kami sarankan agar anda menyimak baik-baik penjelasan yang akan kami berikan di bawah ini.

Sejarah Kerajaan Demak

Pada mulanya, Kerajaan Demak merupakan sebuah kadipaten yang berlokasi di bawah kekuasaan dari Kerajaan Majapahit.

Pada saat Majapahit mengalami keruntuhan, maka kemudian Demak berinisiatif untuk memisahkan diri dari Bintaro dan kemudian mendirikan sebuah kerajaan.

Kerajaan Demak merupakan sebuah kerjaaan islam pertama yang ada di Jawa yang mana raja dan sekaligus pendiri dari kerajaan tersebut adalah seorang kyai dan ulama besar bernama Raden Patah.

Kerajaan Demak menjadi sebuah kerajaan yang memiliki lokasi cukup strategis.

Kenapa?

Karena lokasinya berada di antara pelabuhan bagotan dan juga Kerajaan Mataram sehingga banyak sekali para pedagan yang datang ke Kerajaan Demak untuk menjual dagangannya sehingga hal ini kemudian mengangkat ekonomi kerajaan maupun rakyat yang tinggal di Demak.

Sekedar informasi bahwasanya pendiri dari Kerajaan Demak masih merupakan keturunan asli dari Majapahit dimana ia lahir dari seorang puteri yang bernama Campa.

Beberapa daerah kekuasaan yang diyakini berada di bawah Kerajaan Demak antara lain Banjar, Palembang, Jawa bagian utara, dan juga sampai menuju ke Maluku.

Raden Patah mendapatkan sebuah gelar yang disebut Senapati Jumbung Ngabdurrahman Panembahan Palembang Sayidin Panatagama.

Sekitar tahun 1507, Raden Patah meletakkan tengkuk jabatannya yang kemudian digantikan oleh putranya yang bernama Pati Unus.

Sebelum puteranya tersebut diangkat menjadi raja, ia pernah menjadi pemimpin armada laut yang pada waktu itu berperang untuk mengusir Portugis yang menjajah dan ingin menguasai wilayah Jawa.

Meskipun memang usaha yang dilakukan oleh Pati Unus bersama pasukannya belum membuahkan hasil, akan tetapi atas keberaniannya melawan Portugis yang pada waktu itu memiliki alat-alat perang yang lebih modern, maka Pati Unus kemudian diberikan gelar sebagai Pangeran Sabrang Lor.

Tentu hal ini menjadi salah satu sebab mengapa Raden Patah sudah tidak ragu lagi menyerahkan kekuasaannya kepada anaknya tersebut.

Pada tahun 1521, Pati Unus Wafat yang kemudian tahta Kerajaan Demak diserahkan kepada adiknya yang bernama Trenggana.

Dan pada masa Trenggana inilah, Kerajaan Demak mencapai puncak kejayaannya dimana rakyatnya makmur dan perekonomian Kerajaan Demak semakin lama semakin meningkat.

Dalam upaya untuk mencegah agar supaya Portugis tidak semakin berpengaruh di Pulau Jawa karena pada waktu itu Portugis bermain licik dengan bekerja sama dengan Kerajaan Sunda dan Pajaran,  maka Raja Trenggana mengutus seseorang yang bernama Fatahillah yang memiliki tugas agar supaya Portugis tidak sampai mewujudkan niatnya untuk menguasai daerah Sunda Kelapa dan juga Banten.

Pada waktu itu daerah Sunda Kelapa masih berada di bawah kekuasaan Kerajaan Sunda, namun Kerajaan Demak telah memberikan sikap bahwa ia tidak senang dengan adanya Portugis di Tanah Jawa.

Oleh sebab itu, maka kemudian Fatahillah melakukan perlawanan terhadap Portugis sehingga pada akhirnya ia berhasil memukul mundur Portugis sehingga kemudian Banten dan juga Cirebon kembali dapat dikuasai oleh Fatahillah. Dan untuk mengenang keberanian, kegigihan, serta jasa dari Fatahillah, maka kemudian Sunda Kelapa diganti menjadi Jayakarta pada 22 Juni 1527.

Atas kejadian ini, maka Raja Trenggana menjadi seorang raja yang sangat disegani oleh bukan hanya Kerajaan yang ada di Pulau Jawa, melainkan kerajaan-kerajaan lain di Nusantara juga menaruh hormat kepadanya.

Kemudian Raja Trenggana masih berkeinginan untuk memperluas kekuasaannya sehingga kemudian ia mengirimkan beberapa pasukan untuk datang dan menguasai daerah Jawa bagian Timur.

Kemudian kerajaan yang bercorak Hindu yang ada di Pulau Jawa satu persatu jatuh dan ditaklukkan pada tahun 1528, dimana beberapa kerajaan tersebut antara lain seperti Kerajaan Tuban dan Wonosari.

Selanjutnya, Madiun jatuh pada tahun 1529, Lamongan, Pasuruan, Wonosobo, dan juga Blitar jatuh ke Kerajaan Demak pada tahun 1541 sampai dengan 1542.

Selanjutnya, beberapa daerah seperti Mataram, Pajang, dan juga Madura jatuh dan dapat dikuasai oleh Kerajaan Demak.

Dengan tujuan untuk semakin menguatkan Kerajaan  Demak, maka kemudian Raja Trenggana mengawinkan puterinya dengan Bupati Madura yang bernama Pangeran Langgar.

Selanjutnya, salah satu anak dari Bupati Pengging yang bernama Jaka Tingkir, ia diambil mantu oleh Raja Trenggana yang kemudian dinobatkan dan diberi mandat sebagai Bupati yang ada di Pajang.

Perselisihan dan persengketaan mulai muncul sepeninggal Raja Trenggana yang pada waktu itu menyerang Pasuruan. Dan sampai akhirnya pusat pemerintahan Kerajaan Demak dipindah ke Pajang.

Baca Juga : Sejarah Kerajaan Mataram Kuno

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *