Sejarah dan Asal Usul Angling Dharma
Sejarah dan Asal Usul Angling Dharma

Sejarah dan Asal Usul Angling Dharma

Diposting pada

Sejarah dan Asal Usul Angling Dharma – Sejarah rakyat Indonesia banyak sekali yang belum kita ketahui sampai sekarang. Beberapa kisah seperti Malin Kundang dan Siti Nurbaya mungkin kita sudah mendengar tentang kedua kisah tersebut.

Kisah sejarah tersebut bisa dibilang memiliki nilai historis yang tinggi dan dapat kita ambil pelajarannya untuk bekal di kehidupan kita.

Salah satu cerita rakyat yang paling tersohor yaitu kisah Angling Darma. Kisah ini bermula ketika Angling Dharma lahir dari Pramesti yang merupakan putri Jayabaya.

Semenjak Yudhayana putra Parikesit naik tahta menjadi raja dan kerajaan Hastina menjadi yawastina. Yudhayana mewariskan tahta kerajaan kepada Gedrayana. Pada suatu hari Gendrayana  menghukum adiknya Sudarsana karena sebuah kesalahan pahaman.

Sehingga Batara Narada turun untuk menghakimi kedua saudara ini. Sebab, jika tidak dilerai maka kerajaan Yawastina akan hancur dan akan diserbu oleh rakyat Yawastina.

Batara Narada turun untuk mengadili Gendrayana yang melakukan kesalahan kepada Sudarsana dan Gendrayana dibuang ke hutan sedangkan Sudarsana dijadikan raja oleh Barata Narada.

Gendrayana setelah di buang ke hutan membangun sebuah kerajaan untuk menyaingi kerajaan uang dipimpin oleh Sudarsana. Ia membangun kerajaan bernama Majenang.

Karena usianya yang semakin tua Gendrayana yang mempunyai anak digantikan oleh Jayabaya. Sementara Sudarsana mewariskan tahta kerajaan kepada Sariwahana.

Lalu Sariwahana mempunyai anak bernama Astradarma dan menjalankan roda pemerintahan kerajaan Yawastina. Diantara dua kerajaan Yawastina dan Memenang terlibat peperangan. Peperangan ini selalu terjadi berkali-kali.

Namun, ada sebuah keajaiban ketika usaha dari Hanoman putih melakukan sebuah semedi yang mengharuskan kedua putra dan putri kerajaan harus saling menikah.

Akhirnya kerajaan Yawastina yang dipimpin oleh Astradarma menikahi putri dari Jayabaya Pramesti. Dan pada saat itu kedua kerajaan damai tanpa peperangan setelah terjadinya pernikahan tersebut.

Asal Usul Angling Dharma

Suatu ketika Pramesti mimpi bertemu dengan Batara Wisnu dan lewat mimpinya Batara Wisnu mengatakannya akan lahir sebuah anak dari rahim Pramesti.

Pramesti pun kaget karena setelah dia bangun perutnya langsung membesar. Suami nya Astradarma terkejut mendengar apa yang dikatakan Pramesti saat mengetahui kehamilannya. Astradarma pun menuduhnya selingkuh dibelakangnya.

Secara tegas Astradarma mengusir Pramesti dari rumah tanpa mendengar keterangan dari Pramesti. Melihat anaknya yang diusir oleh Astradarma, Jayabaya tidak terima terhadap perlakuannya terhadap anaknya.

Jayabaya pun bersumpah untuk mengutuk kerajaan Yawastina akan luluh lantah diterjang oleh lumpur. Kutukan tersebut menjadi kenyataan dan membuat Astradarma meninggal bersama kerajaan yang dipimpinnya di banjir lumpur tersebut.

Setelah meninggalnya Astradarma, Pramesti melahirkan seorang anak laki-laki bernama Angling Dharma. Kelahiran itu bersamaan dengan wafatnya Jayabaya yang telah mencapai moksa. Dan tahta kerajaan di serahkan kepada Jayawijaya saudara Pramesti.

Angling Dharma setelah beranjak dewasa membawa ibunya Pramesti ke kerajaan Malawapati yang dibangun oleh Angling Dharma.

Disana Angling darma diberi gelar Prabu Angling Dharma dan Prabu Ajidarma. Kegemaran Angling Dharma adalah suka berburu hewan liar disekitar kerajaan yang dipimpinnya.

Suatu ketika ia bertemu seorang perempuan bernama Setyawati yang dikejar oleh harimau. Setyawati akhirnya ditolong oleh Angling Dharma dan diantarkan ke rumah ayahnya bernama Resik Manisutra.

Karena melihat paras cantiknya Setyawati Angling Dharma kepincut untuk meminangnya sebagai seorang istri. Namun, hal itu tidak mudah bagi Angling darma.

Sebab, untuk menikahi Setyawati kakak nya bernama Batik Mardin bersumpah untuk siapa saja yang ingin menikahi adiknya maka harus bisa mengalahkannya. Angling Dharma waktu itu menyanggupinya maka terjadilah peperangan yang dimenangkan oleh Angling Dharma.

Karena Batuk Mardin kalah Angling Dharma lantas mempersunting Setyawati dan menjadikannya permaisuri Angling Dharma. Dan menjadikan kakaknya Batik Mardin sebagai Patih kerajaan Malawapati.

Suatu hari Angling Dharma mendapati istri gurunya yang bernama Nagagini sedang berselingkuh dengan seekor ular. Angling Dharma pun membunuhnya dan Nagagani terluka setelah kejadian itu.

Nagagani akhirnya menyusun laporan palsu untuk menuduh Angling Dharma sebagai pelakunya. Nagaraja sebagai suami Nagagini menelusup ke kerajaan Malawapati.

Ia mendengarkan pembicaraan Angling Dharma dengan Setyawati tentang perselingkuhan Nagagini dengan seekor ular. Nagaraja yabg mengetahui informasi tersebut sadar dan meminta maaf apa yang selama ini dituduhkan kepada Angling darma.

Nagaraja pun ingin memberikan moksa kepada Angling Dharma. Ia memberikan ilmu kesaktian kepada Angling Dharma berupa aji gineng. Ilmu itu diberikan kepada Angling Dharma untuk dijaga baik-baik.

Setalah memberikan ilmunya Nagaraja pun wafat dan meninggalkan Nagagini. Sejak diwariskan ilmunya kepada Angling Dharma dia pun bisa memahami bahasa binatang. Sejak saat itulah Setyawati curiga apa yang dilakukan suaminya dan bertanya kepadanya.

Namun, Angling Dharma enggan menjawab pertanyaan dari Setyawati. Karena tidak mau mengakui ilmunya Setyawati memilih mengakui hidupnya dengan menggunakan cara Pati obong.

Pati obong merupakan cara bunuh diri menggunakan api untuk mengembalikan jati dirinya. Angling Dharma pun berjanji untuk ikut bersama dengan Setyawati untuk membakar bersama-sama.

Sebelum akan membakarnya api Angling Dharma mendengar apa yang dikatakannya oleh kambing. Katanya kambing itu mengatakan bahwa apa yang dilakukannya oleh Angling Dharma hanyalah sia-sia dan merugikan rakyatnya.

Singkat cerita Angling Dharma menjalani hukumannya karena mengingkari janji sehidup semati dengan tidak ikut membakar dirinya bersama Setyawati.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *